Main Article Content

Abstract

Tuberkulosis masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia, khususnya di Wilayah Kerja Puskesmas Benu-Benua Kota Kendari (daerah pesisir) dan Wilayah Kerja Puskesmas Anggaberi Kabupaten Konawe (daerah pegunungan). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan faktor risiko kejadian TB paru BTA Positif di Daerah Pesisir dan Daerah Pegunungan. Jenis penelitian adalah observasional analitik menggunakan studi perbandingan dengan rancangan Cross Sectional Study dari bulan September-Oktober 2019. Populasi penelitian ini adalah 57 kasus, dengan tehnik penarikan sampel secara Random Sampling, jumlah sampel sebanyak 32 kasus di daerah pesisir dan 25 kasus di daerah pegunungan. Metode analisis menggunakan uji Statistik Mann-Whitney Test. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan faktor risiko kebiasaan tidur kejadian TB paru BTA positif di daerah pesisir dan daerah pegunungan dengan p-value= 0,003 < α = 0,005), tidak ada perbedaan faktor risiko kebiasaan membuang dahak dengan p-value = 0,253 > α = 0,005, dan ada perbedaan faktor risiko kebiasaan membuka jendela kejadian TB paru BTA positif di daerah pesisir dan daerah pegunungan dengan nilai p-value = 0,003 < α = 0,005. Saran dalam penelitian ini menjadi bahan masukan bagi pengelola program pencegahan dan penanggulangan penyakit khususnya penyakit TB.

Keywords

Kejadian TB kebiasaan tidur membuang dahak membuka jendela

Article Details

How to Cite
Mohamad Guntur Nangi, Yulli Fety and Alianto (2020) “FAKTOR RISIKO KEJADIAN TB PARU BTA POSITIF DI DAERAH PESISIR DAN DAERAH PEGUNUNGAN: STUDI KOMPARASI PUSKESMAS BENU-BENUA DAN ANGGABERI”, Miracle Journal of Public Health , 3(2), pp. 163-171. doi: 10.36566/mjph/Vol3.Iss2/174.

References

  1. 1. Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta; 2015.
  2. 2. Mulyadi, Fitrika Y. Hubungan Tuberkulosis dengan HIV/AIDS. Jurnal PSIK-FK Unisyah. 2011;2(2):162-166.
  3. 3. WHO. Tuberculosis Remains Leading Infectious Killer. Geneva; 2017.
  4. 4. Kemenkes RI. Riskesdas Penyakit Menular. Jakarta; 2016.
  5. 5. Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta; 2018.
  6. 6. Dinkes Provinsi Sultra. Profil Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Kendari; 2018.
  7. 7. Dinkes Kota Kendari. Data TB BTA Positif Kota Kendari Tahun 2016-2018. Kendari; 2019.
  8. 8. Dinkes Kabupaten Konawe. Data TB BTA Positif Kabupaten Konawe Tahun 2016-2018. Unaaha; 2019.
  9. 9. Puskesmas Benu-Benua. Data TB BTA Positif Tahun 2014-2018. Benu-Benua; 2019.
  10. 10. Puskesmas Anggaberi. Data TB BTA Positif Tahun 2014-2018. Anggaberi; 2019.
  11. 11. Dhika T, Rejeki DSR. Studi Komparasi Beberapa Faktor Risiko Kejadian Tuberkulosis Paru BTA Positif di Daerah Pesisir dan Daerah Pegunungan. Jurnal Kesmas Indonesia. 2011;4(2):184-192.
  12. 12. Yigibalom N, Sulistiani, Nurjazuli. Faktor Risiko Kebiasaan Tinggal di Rumah Etnis dan Membuang Dahak Sembarang pada Kejadian TB Paru di Kabupaten Jayawijaya, Papua. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia. 2019;18(1):1-7.